
Ia mengatakan, kemarau yang berlangsung bersamaan dengan El Niño dapat menjadi lebih kering dan berpotensi lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Dampaknya antara lain meningkatnya risiko kekeringan, berkurangnya ketersediaan air, serta potensi kebakaran hutan dan lahan.
Kondisi tersebut juga berpotensi memundurkan awal musim hujan. Berdasarkan prakiraan BMKG dan Badan Meteorologi Dunia, El Niño diperkirakan masih berlangsung hingga Februari 2027.
“Karena itu, mitigasi perlu diperkuat, terutama dalam pengelolaan sumber daya air dan kesiapsiagaan menghadapi kondisi kemarau,” urainya.
Puncak Musim Kemarau di Surabaya
Khusus Surabaya, Siska Anggraeni, Prakirawan BMKG Juanda menyampaikan bahwa wilayah tersebut masih berada pada puncak musim kemarau. Warga akan lebih sering merasakan suhu panas dan terik pada siang hari, sementara kelembapan udara cenderung lebih rendah.
Pada September hingga November, curah hujan di Surabaya diperkirakan masih relatif rendah. Pengaruh El Niño yang masih cukup kuat juga berpotensi membuat awal musim hujan datang lebih lambat.
















