
“Terutama di rumah-rumah padat penduduk, kerawanannya cukup tinggi. Karena itu, antisipasi harus dimulai dari kesadaran masing-masing individu,” katanya.
Lakukan Mitigasi dan Edukasi
BPBD Surabaya pun tidak menunggu sampai terjadi bencana. Upaya mitigasi dan edukasi dilakukan secara berkelanjutan melalui sekolah, pondok pesantren, lingkungan warga, hingga media sosial. “Langkah tersebut ditujukan agar masyarakat memahami risiko cuaca kering sekaligus mengetahui cara sederhana untuk menguranginya,” imbuhnya.
Sementara itu, Taufiq Hermawan, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo menegaskan, El Niño merupakan fenomena iklim alamiah yang ditandai dengan peningkatan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik bagian tengah dan timur.
Fenomena tersebut dapat memengaruhi pola cuaca di Indonesia, terutama dengan menurunkan curah hujan dan membuat kondisi kemarau lebih kering.
“Secara umum, dampak El Niño di Indonesia adalah berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah. Ketika curah hujan berkurang, sumber daya air seperti waduk, sungai maupun sumur juga dapat mengalami penurunan,” papar Taufiq.
















