
“Pengaruh El Niño yang masih kuat ini kemungkinan akan memundurkan awal musim hujan. Jadi, curah hujan masih relatif rendah karena kondisi kemarau yang diperkuat oleh fenomena tersebut,” katanya.
Siska menyatakan, minimnya tutupan awan membuat radiasi matahari lebih banyak mencapai permukaan bumi sehingga siang hari terasa lebih panas. Kondisi tersebut dapat semakin terasa di wilayah perkotaan akibat efek urban heat atau pemanasan perkotaan.
“Meski begitu, masyarakat tidak perlu panik. Kewaspadaan dapat dilakukan melalui langkah sederhana, seperti menyesuaikan aktivitas saat cuaca sangat panas, mencukupi kebutuhan air, serta menjaga lingkungan dari sumber-sumber api,” imbuhnya.
Andrie Wijaya, Prakirawan BMKG Juanda menambahkan, setiap wilayah di Surabaya memiliki potensi yang berbeda selama periode kemarau. Surabaya Barat dan Selatan, yang memiliki lebih banyak vegetasi dan lahan terbuka, perlu lebih waspada terhadap potensi kebakaran.
Sementara kawasan Surabaya Utara dan Timur, khususnya wilayah pesisir, juga perlu memperhatikan potensi banjir rob dan angin kencang. Untuk Surabaya Pusat, kondisi kekeringan dan angin kencang menjadi hal yang perlu diperhatikan, terutama karena aktivitas masyarakat yang cukup tinggi.
“Untuk hidrometeorologi kering di Surabaya, yang perlu diwaspadai antara lain kekeringan meteorologis, krisis suplai air bersih, serta potensi kebakaran lahan dan permukiman,” pungkasnya. */ana/ap
















