Popok hingga Kasur Masih Dibuang ke Sungai, Lohjinawi Ajak Warga Surabaya Ubah Kebiasaan

0
164

Dari Rumah hingga Sungai
Lohjinawi mencoba membangun pendekatan itu melalui bank sampah. Yayasan tersebut hingga kini telah membentuk sekitar 500 bank sampah dengan kapasitas serapan sekitar 20 ton sampah per bulan. Program tersebut mendorong warga memilah dan mengelola sampah sejak dari sumbernya.

Di Kali Mrutu, pendekatan pencegahan itu berjalan berdampingan dengan penanganan sampah yang sudah terlanjur masuk ke sungai.

Program Sungai Lestari telah mengumpulkan sekitar 56 ton sampah dari Kali Mrutu selama Juni hingga Agustus 2026 untuk dipilah dan kemudian masuk ke proses daur ulang. Warga juga mulai membersihkan titik-titik kumuh di sepanjang bantaran dan menata kawasan menggunakan pagar maupun hiasan dari bahan daur ulang.

Trash Boom Bukan Solusi Tunggal
Di sungai, Lohjinawi juga menggunakan trash boom untuk menahan sampah yang terbawa arus sebelum bergerak lebih jauh ke hilir.

Pada 2026, terdapat dua trash boom yang dipasang di kawasan Surabaya Utara, masing-masing di bagian hulu kawasan Kali Mrutu Wonokusumo dan bagian hilir di Bulak Banteng. Dalam satu kali pengangkutan, kedua perangkat tersebut dapat menangkap sekitar 500 kilogram hingga 1 ton sampah per hari, tergantung kondisi dan volume sampah yang masuk.

Namun, Yasmin menegaskan perangkat tersebut bukan satu-satunya jawaban. Ketika sampah terus dibuang dari sumbernya, sungai akan selalu membutuhkan penanganan berulang.

1 2 3 4 5

Comments are closed.