
Program Sungai Lestari telah mengumpulkan sekitar 56 ton sampah dari Kali Mrutu selama Juni hingga Agustus 2026 untuk dipilah dan kemudian masuk ke proses daur ulang. Warga juga mulai membersihkan titik-titik kumuh di sepanjang bantaran dan menata kawasan menggunakan pagar maupun hiasan dari bahan daur ulang.
Bagi Lohjinawi, pekerjaan tersebut tidak selesai hanya dengan membuat sungai tampak bersih selama satu hari. Justru tantangan terbesarnya adalah memastikan kebiasaan lama perlahan berubah.
“Popok tidak lagi dilempar ke sungai, kasur tidak dijadikan benda yang ‘dihanyutkan’, dan sungai tidak diperlakukan sebagai tempat sampah yang mengalir,” tegasnya.
Yasmin berharap Program Sungai Lestari dapat berlanjut setelah 2026, termasuk kemungkinan penambahan trash boom di lokasi lain yang memiliki beban sampah tinggi.
Pada akhirnya, menjaga Kali Mrutu bukan semata soal berapa ton sampah yang berhasil diangkat. Ukuran yang lebih penting justru ada pada apa yang terjadi setelahnya, yaitu apakah warga mulai menahan diri untuk tidak membuang sampah ke sungai sejak dari rumah.
Sebab sungai yang bersih tidak hanya membutuhkan alat untuk menangkap sampah. Ia membutuhkan kebiasaan baru dari orang-orang yang hidup di sekitarnya. ap
















