Théâtre Bernard Marie Koltes, Universitas Paris Nanterre Jadi Panggung Akbar ‘Mollo – Festival de la Culture Indonésienne’

0
2117

Kolaborasi apik antara Krishna Sutedja, komposer kondang asal Bali yang bermukim di Leiden dengan Christophe Moure, pelatih sekaligus penanggung jawab gamelan, Kadek Puspasari, direktur artistik, Dian Oerip, desainer asal Ngawi dengan spesialisasi kain tenun, dan Melanie Subono, musisi serta aktivis lingkungan hidup di Indonesia.

Walau merupakan karya musik kontemporer, namun nuansa tradisi masih sangat kental terasa. Musik yang digubah secara khusus oleh Krishna Sutedja untuk mengiringi puluhan penari dengan kostum rancangan Dian Oerip ini mengeksplorasi berbagai alat musik.

Mulai dari gamelan Jawa dan Bali, instrumen musik barat hingga cangkang kerang laut. Gaung berat yang dihasilkan cangkang kerang laut membuat penonton seolah-olah berada di tengah padang savana di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di atas panggung, silih berganti para penari dan pecinta brand fesyien Oerip Indonesia memamerkan keindahan rupa dan warna ratusan kain tenun Mollo khas Desa Fatumnasi, Soe, NTT yang dibawa Dian Oerip dalam lawatannya ke Prancis dan Belanda kali ini.

Kadek Puspasari yang bertindak sebagai direktur artistik menyatakan bahwa pertunjukan malam itu terinspirasi dari perjuangan para wanita penenun dalam upaya menyelamatkan lingkungan hidup dan tradisi warisan leluhur di daerah Mollo.

1 2 3 4

Comments are closed.