
Ternyata minat publik Prancis mengikuti berbagai workshop cukup besar. Peserta mengikuti dengan antusias dan penuh perhatian.
Guna menarik perhatian masyarakat kota Nanterre di sekitar kampus untuk menghadiri festival, Senin sore, hari pertama festival, digelar balaganjur atau arak-arakan gamelan Bali berkeliling kampus dan sekitarnya.
Rombongan terdiri dari musisi gamelan Bali Puspa Warna, penari asosiasi Sekar Jagat Indonesia, grup pecinta Dian Oerip dari Indonesia, mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam PPI dan beberapa warga Indonesia yang tinggal di sekitar Paris.
Meski pertama kalinya digelar di Universitas Paris Nanterre, Festival Budaya Indonesia ini cukup besar dan lengkap. Si penggagas festival, Caroline Richard, mahasiswa master 1 bidang Sosiologi penyelenggaraan proyek budaya dan pengenalan publik, berharap festival ini bisa terlaksana tiap tahun.

Menurutnya festival yang melibatkan puluhan seniman profesional yang berasal dari berbagai negara seperti Prancis, Belanda, Inggris, Slovakia dan Indonesia ini bisa terealisir berkat kerjasama antara asosiasi Pantcha Indra, Universitas Paris Nanterre dan Kedutaan Besar Indonesia di Paris.
Sebenarnya festival ini juga menjadi salah satu bukti eratnya hubungan antara ketiga organisasi dan institusi tersebut. Apalagi dengan masuknya gamelan menjadi salah satu mata kuliah yang ditawarkan pada jurusan Ethnomusikologi dan Anthropologi Tari di perguruan tinggi yang terletak sekitar 8 km di sebelah barat kota Paris ini.
Prof Warsito, Atdikbud KBRI Paris menyatakan bahwa Universitas Paris Nanterre merupakan perguruan tinggi pertama di Prancis yang memiliki mata kuliah gamelan. Semoga kelak lebih banyak lagi universitas di Prancis yang membuka mata kuliah gamelan. ***
















