Ironi Dunia Pendidikan: SD Negeri Sepi Peminat, Sekolah Agama Ramai

Ilustrasi: Murid Sekolah Dasar (foto: IST)
Ini bukan sekadar pilihan, melainkan ekspresi emosional dari masa lalu yang getir. Para orang tua yang ‘kehilangan masa kecil religius’ kini ‘membalasnya’ dengan cara ekstrem, menjadikan anak sebagai projek penebusan dosa spiritual.
“Saya dulu tidak pernah diajari agama secara benar, akhirnya pergaulan saya bebas. Sekarang saya tidak ingin anak saya seperti itu.” Ungkapan umum para orang tua murid.
Sayangnya, pendidikan yang dimotivasi dendam sejarah seperti ini justru menjauhkan kita dari visi Indonesia modern. Alih-alih mendorong anak menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya, mereka malah dijejali program hafalan kitab suci yang kerap dibungkus jargon ‘karakter dan akhlak’.
Padahal, dalam taksonomi Bloom, hafalan adalah tingkat kognitif paling rendah. Ia tidak menumbuhkan nalar kritis, tak memupuk daya imajinasi apalagi menyentuh urat logika yang sangat dibutuhkan anak-anak di masa depan.
Kita seperti memaksa anak-anak Gen Z dan Alpha untuk belajar seperti generasi abad ke-7— menghafal mantra dan menjadikannya tolok ukur moral dan kecerdasan.

















