
Monumen Ayam Jago. (foto: Diskominfo Kota Surabaya)
Joko Berek mengaku bahwa dia anak Adipati Jayengrono. Tetapi Sawungrana dan Sawungsari tidak percaya, hingga akhirnya Joko Berek ditantang untuk bertarung ayam jago dan memanah.
Setelah itu, akhirnya Joko Berek memenangkan pertarungan dan bertemu dengan Jayengrono. Saat itu juga, Joko Berek memberikan selendang kuning pemberian ibunya kepada Jayengrono.
Tetapi perjuangan Joko Berek belum berakhir. Agar bisa tinggal di lingkungan Kadipaten Surabaya, Jayengrono meminta kepada Joko Berek agar membabat habis hutan Wonokromo yang menjadi cikal bakal berdirinya Kota Surabaya saat ini.
“Wonokromo itu kan dulunya hutan, karena cikal bakalnya Surabaya zaman dulu itu ya di situ. Kenapa ada Ayam? Karena ketika dia (Joko Berek) mencari ayahnya tadi, selalu membawa ayam dan setiap kali ayam itu diadu selalu menang,” paparnya.
Yongky menerangkan, adanya monumen Ayam Jago di wilayah Kelurahan Lidah Wetan tidak hanya sebagai penanda perjuangan Joko Berek, tetapi juga bagian dari pengingat sejarah asal berdirinya Kota Surabaya pada zaman dulu.
















