
Meimura
iniSURABAYA.com – Perintah ‘pengosongan’ sejumlah ruang di area Balai Pemuda Surabaya berujung pada penyegelan Sekretariat Dewan Kesenian Surabaya, Senin (4/5/2026).
Masalah selesai? Tindakan tegas yang dilakukan petugas Satpol PP bersama Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga, serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya itu ternyata bukan sebuah klimaks. Sejumlah seniman kemudian melakukan perlawanan.
Di tengah gonjang-ganjing Balai Pemuda tersebut, Meimura -seniman senior Surabaya yang dikenal dengan aksi ludruk garingan- coba ‘ngudo roso’. Berikut uneg-uneg pemeran tokoh Besut ini untuk pembaca iniSurabaya.com.
BALAI Pemuda Surabaya agaknya memang bangunan yang sakti. Ia tidak hanya menampung pementasan teater, latihan gamelan, diskusi sastra, pameran lukisan, atau rapat seniman yang berakhir dengan kopi dingin dan rokok tingwe alias ngelinting dewe. Ia juga sanggup menampung ironi. Bahkan ironi kelas berat.
Surat perintah pengosongan ruang berkesenian yang ditujukan kepada Dewan Kesenian Surabaya, Bengkel Muda Surabaya, Sanggar Merah Putih, hingga Ning penjual makanan di kawasan Balai Pemuda, telah berubah dari sekadar urusan administrasi menjadi drama sosial lintas generasi.
















