
Meimura
Yang paling menarik justru generasi Z dan alfa. Mereka terkejut. Dengan polos mereka bertanya,“Masak pemerintah kota kita begitu?”
Pertanyaan sederhana itu sesungguhnya tamparan paling telak. Sebab keluar dari generasi yang tumbuh dengan slogan kota kreatif, kota toleran, kota humanis, kota penuh festival, kota ramah anak, kota ramah investasi, kota ramah influencer, hingga mungkin sebentar lagi kota ramah algoritma. Tetapi rupanya belum tentu ramah kepada ruang proses kebudayaan.
Mahasiswa FISIP mungkin melihatnya lebih dingin. Mereka mulai menghitung pola. Berapa kali pengosongan ruang budaya terjadi? Siapa yang terdampak? Apa logika kekuasaan di baliknya? Mengapa ruang kesenian selalu tampak kalah penting dibanding beton baru?
Di titik ini, peristiwa Balai Pemuda tidak lagi sekadar konflik ruang, melainkan studi kasus mengenai relasi kuasa antara negara dan kebudayaan.
Ironisnya, Dewan Kesenian Surabaya bukan organisasi liar yang tiba-tiba nongol membawa toa lalu menduduki bangunan pemerintah. Ia lembaga resmi. Pengurus-pengurusnya bahkan selama ini terkenal lebih dekat pada watak ‘manut’ ketimbang ‘memberontak’.
















