
Meimura
Kalau organisasi sejinak itu sampai melakukan perlawanan, berarti ada sesuatu yang memang sudah terlalu jauh. Dan sejarah mencatat, DKS berkali-kali mengalah.
Dari ruang representatif bernama Loka Seni —lengkap dengan ruang latihan, galeri pameran, gamelan, kantor, dan panggung— lalu bergeser ketika kawasan itu berubah menjadi gedung DPRD Kota Surabaya. Setelah itu menempati ruang satu petak di samping Bengkel Muda Surabaya.
Geser lagi ke belakang Masjid Asakinah. Masjidnya dibongkar, ruang keseniannya ikut tergeser. Lalu setelah perlawanan panjang, dipindah lagi ke gedung terdepan Balai Pemuda. Siklusnya hampir menyerupai pengembaraan Pandawa, hanya bedanya ini tanpa wahyu dan tanpa kerajaan.
Lucunya, setiap penggusuran ruang kesenian selalu dibungkus narasi pembangunan. Seolah-olah kesenian adalah barang yang bisa dipindahkan seperti pot bunga plastik. Padahal kebudayaan bekerja dengan ingatan ruang.
Teater tidak tumbuh dari semen baru. Musik tidak lahir dari pendingin ruangan. Kesenian tumbuh dari pertemuan manusia, dari kontinuitas, dari jejak sejarah yang dipelihara.
















