Catatan Khusus Meimura: Bangunan Sakti Itu Bernama Balai Pemuda

0
47

Nama-nama besar seperti Gatut Kusumo, Leo Kristi, Gombloh, Franky Sahilatua, Amang Rachman, Kadarruslan, Anang Hanani, Akhudiat, Arif B Prasetyo, Aming Aminudin, Sam Abd Pareno, Suparmin Ras, dll, hingga generasi 80-90-an telah membawa nama Surabaya melintasi batas kota bahkan negara.

Mereka menjadikan Surabaya bukan hanya kota mal dan jalan protokol, tetapi kota dengan denyut kebudayaan yang hidup.

Namun tampaknya ingatan birokrasi sering lebih pendek dibanding usia cat tembok baru.

Yang membuat publik makin bingung adalah fakta historis: penggusuran atau pengosongan ruang berkesenian justru terjadi pada era dua wali kota yang berasal dari partai yang mengklaim diri sebagai partai wong cilik.

Maka publik bertanya-tanya: apakah ‘wong cilik’ dalam definisi politik kita tidak termasuk seniman? Atau mungkin seniman dianggap makhluk abstrak yang tidak masuk kategori rakyat karena terlalu sering membaca puisi dan jarang ikut tender projek?

Di sinilah humor atau Dagelan tragedi itu bekerja.

1 2 3 4 5 6

Comments are closed.