Catatan Khusus Meimura: Bangunan Sakti Itu Bernama Balai Pemuda

0
50

Pemerintah kota mungkin merasa sedang mengelola aset. Tetapi masyarakat melihat sesuatu yang lain: kota yang perlahan kehilangan ingatan budayanya sendiri. Dan kota tanpa ingatan budaya biasanya berubah menjadi ruang administrasi raksasa —tertib, bersih, terang, tetapi dingin.

Padahal sejarah kota-kota besar dunia menunjukkan satu hal: yang membuat sebuah kota dikenang bukan hanya flyover, taman steril, atau gedung kaca. Melainkan cerita manusianya. Senimannya. Musiknya. Teaternya. Ruang nongkrongnya. Kekacauan kreatifnya.

Surabaya semestinya belajar dari itu. Sebab kota yang terlalu sibuk menata, kadang lupa cara merawat jiwa.

Dan mungkin, di antara semua tokoh dalam kisah ini, Ning penjual makanan justru yang paling filosofis. Ia tetap berjualan di tengah gonjang-ganjing kebudayaan, mungkin sambil berpikir: “Seniman ribut soal ruang, pemerintah ribut soal aturan, saya cuma ingin tahu besok masih bisa jualan atau tidak.”

Sebuah kalimat yang sederhana, tetapi mungkin paling dekat dengan realitas rakyat sehari-hari. *

1 2 3 4 5 6

Comments are closed.