‘Gemblak Terakhir’: Kisah Warok, Cinta, dan Kuasa yang Diangkat Jadi Novel

0
3

“Tetapi oleh penulis, novel ini dipoles lebih bebas dan mendalam karena tidak terikat oleh durasi sebagaimana sebuah sinetron,” tutur Imung, mantan General Manager Arek TV dan wartawan Surabaya Post.

Latar belakang kedua penulis sebagai jurnalis juga ikut memengaruhi gaya penulisan. Mereka memilih bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, dengan alur yang dibuat bergerak cepat.

Bagi pembaca, pendekatan tersebut diharapkan membuat cerita tentang warok dan gemblak tidak terasa sebagai bacaan sejarah atau budaya yang berat.

Penerbit Meja Tamu mengemas novel ini dalam format relatif ringkas, yakni xii+82 halaman dengan ukuran 14×20 sentimeter.

Memori Kolektif yang Kembali Hidup
Penyunting ‘Gemblak Terakhir’, Adriono, melihat kekuatan novel ini justru terletak pada keberanian penulis memanfaatkan memori kolektif masyarakat sebagai bahan bakar cerita.

Menurut dia, memori kolektif dapat berupa budaya, kearifan lokal, legenda, dongeng, gugon tuhon, maupun mitos yang berkembang di tengah masyarakat.

1 2 3 4 5 6

Comments are closed.