‘Gemblak Terakhir’: Kisah Warok, Cinta, dan Kuasa yang Diangkat Jadi Novel

0
381


“Sebagai karya fiksi, kisah dalam novel ini murni hasil imajinasi. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan cerita, hal itu hanyalah kebetulan semata,” tutur Sasetya, mantan redaktur majalah berbahasa Jawa ‘Penyebar Semangat’.

Ketika Budaya Jadi Napas Cerita
Bagi kedua penulis, budaya warok dan gemblak bukan sekadar dekorasi untuk mempercantik cerita. Latar tersebut justru menjadi bagian penting yang menggerakkan konflik para tokohnya.

Sasetya mengatakan, novel ini juga lahir dari keinginan untuk ikut menjaga dan mengenalkan kekayaan budaya Indonesia.

Warok dalam konteks budaya Ponorogo dikenal sebagai sosok yang disegani dan memiliki posisi sebagai tokoh panutan. Karena itu, penggambaran tokoh oknum warok yang memiliki perilaku buruk dalam novel tersebut tidak dimaksudkan untuk merendahkan keberadaan warok.

“Jadi kalau di dalam novel ini digambarkan ada oknum warok yang kurang baik, itu tidak dalam rangka mendegradasi derajat dan marwah warok. Sebagaimana profesi lain, semisal guru, dokter, atau profesi lainnya, kadang ada oknum yang kurang baik. Jadi tidak boleh digebyah uyah,” tegas Sasetya.

Novel ini juga menjadi ruang untuk membicarakan sisi lain dari fenomena gemblak. Di dalam cerita, seorang ibu yang berada dalam tekanan ekonomi terpaksa melepas anak laki-lakinya yang masih belia ketika dipinang untuk menjadi gemblak seorang warok.

1 2 3 4 5 6

Comments are closed.