‘Gemblak Terakhir’: Kisah Warok, Cinta, dan Kuasa yang Diangkat Jadi Novel

0
2

Ketika diolah dengan tepat, kekayaan tersebut tidak hanya memberikan warna pada cerita, tetapi juga membuat tokoh dan peristiwa di dalamnya terasa dekat dengan kehidupan pembaca.

Adriono menilai pendekatan serupa telah banyak digunakan dalam karya sastra Indonesia. Ia menyebut ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ karya Ahmad Tohari, ‘Para Priyayi’ karya Umar Kayam, ‘Gadis Kretek’ karya Ratih Kumala, hingga ‘Tarian Bumi’ karya Oka Rusmini sebagai contoh karya yang menjadikan budaya lokal sebagai bagian penting dari cerita.

Adriono menekankan, ‘Gemblak Terakhir’ memiliki pendekatan yang sama dengan membawa memori kolektif masyarakat Jawa, terutama kawasan Ponorogo dan sekitarnya, ke dalam cerita.

Warok digambarkan sebagai pemimpin lokal informal, pendekar yang disegani, sekaligus sosok yang biasanya memiliki kelompok kesenian reog. Sementara gemblak merupakan anak laki-laki yang dipelihara secara khusus oleh seorang warok.

Fenomena tersebut memiliki lapisan makna yang kompleks, mulai dari seni pertunjukan dan simbol status hingga persoalan sosial dan spiritual yang kontroversial.

“Nah, salah satu keberhasilan novel ini adalah kehadiran budaya warok maupun fenomena gemblak tidak sekadar tempelan semata. Tetapi benar-benar menyatu atau blended dengan inti cerita yang disuguhkan,” tegasnya.

1 2 3 4 5 6

Comments are closed.