
Arik S Wartono gelar pameran tunggal ‘Dari Gosari ke Kasongan’ di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya. (foto: dok)
Artefak tersebut ditempatkan bukan sekadar sebagai benda sejarah, tetapi menjadi bagian dari instalasi ‘Mandala Giri Kedaton’.
Instalasi itu berangkat dari temuan pada situs Makam Sunan Prapen, yang berkaitan dengan Giri Kedaton. Secara visual, Mandala Giri Kedaton memiliki kemiripan dengan Surya Majapahit. Namun, konsep simboliknya mengalami perubahan.
Jika Surya Majapahit mengenal gagasan satu pusat dengan delapan unsur penguasa di sekelilingnya, Arik mengolahnya dalam konteks Giri Kedaton menjadi simbol Walisongo: satu pemimpin sebagai pusat dan delapan ulama sebagai penopang.
“Melalui Mandala Giri Kedaton, saya ingin memperlihatkan bahwa simbol tidak pernah benar-benar berhenti pada satu bentuk. Ia bisa berpindah, berubah makna, tetapi tetap hidup di ruang dan tanah yang sama,” papar Arik.
‘Mandala Giri Kedaton’, kata Arik, memadukan gerabah, lampion Damar Kurung berbentuk segitiga, serta batik bermotif Damar Kurung.

















