
Arik S Wartono gelar pameran tunggal ‘Dari Gosari ke Kasongan’ di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya. (foto: dok)
Arik menggunakan bougenville sebagai simbol untuk mengajak pengunjung mempertanyakan kembali bagaimana pengetahuan sejarah dan kebudayaan terbentuk.
Bougenville diketahui bukan tanaman asli Nusantara. Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan dan masuk ke Indonesia pada masa kolonial sebagai tanaman hias.
“Bunga kertas saya hadirkan sebagai pengingat bahwa apa yang hari ini kita anggap sebagai sesuatu yang alamiah, ilmiah, atau bahkan bagian dari identitas, bisa saja merupakan hasil dari proses sejarah yang panjang dan konstruksi pengetahuan tertentu,” papar Arik.
Dari simbol tersebut, pameran kemudian bergerak menuju gagasan dekolonisasi pengetahuan. Arik mengajak publik melihat kembali sejarah, seni, dan ilmu pengetahuan dengan kesadaran yang lebih kritis terhadap warisan narasi kolonial.
Seni, Sejarah dan Riset Bertemu
Pameran ‘Dari Gosari ke Kasongan’ juga tidak berdiri sendiri. Arik berkolaborasi dengan sejumlah pihak, yakni Eko Jarwanto, sejarawan Gresik yang mengkaji Situs Gosari, Kris Adji AW, seniman sekaligus sejarawan Gresik, Heru Siswanto, seniman dan Ketua Perajin Kasongan, Ariel Ramadhan, seniman muda Surabaya, serta Sanggar Daun.
















