Membaca ‘Suara dari Balik Penutup Wajah’ Karya Hamid Nabhan, Emi Suyanti: Suara yang Terlambat Didengar

0
15

“Maka, judul ‘Suara dari Balik Penutup Wajah’ memperoleh makna yang lebih luas,” tegas Emi Suy –sapaan akrab wanita ini.

Wajah boleh disembunyikan, tetapi suara meninggalkan jejak. Suara parau yang semula terdengar sebagai ancaman kemudian menjadi petunjuk tentang siapa yang berada di baliknya, sekaligus membuka persoalan yang selama ini tidak terdengar.

Penutup wajah akhirnya bukan sekadar perangkat misteri. Ia menjadi metafora tentang jarak antara apa yang tampak dan apa yang sedang dialami seseorang.

Toko Buku dan Manusia yang Gagal Dibaca
Ada ironi yang menarik dalam cerpen ini. Rego adalah pemilik toko buku, tetapi justru terlambat membaca manusia yang berada di dekatnya.

Buku memiliki halaman, kalimat, tanda baca, jeda, bahkan bagian-bagian yang tidak langsung mengatakan apa-apa. Manusia pun demikian. Seseorang dapat memiliki perubahan kecil yang sebenarnya merupakan sebuah tanda: lebih banyak diam, lebih sering melamun, kehilangan gairah bekerja, atau tiba-tiba menarik diri.

Lehi ternyata telah menunjukkan tanda-tanda itu. Rego mengingat bahwa dalam beberapa minggu terakhir Lehi tampak murung dan sering melamun. Kemudian ia teringat desas-desus tentang keluarganya yang terlilit utang untuk biaya pengobatan ibunya.

1 2 3 4 5 6

Comments are closed.