
Emi Suy bersama Supardi Djoko Damono. (foto: dok)

Hamid Nabhan,
Sebab, bisa jadi, di balik wajah yang ditutup terdapat seseorang yang selama ini sebenarnya kita kenal. Rego hidup dalam rutinitas yang relatif mapan. Ia memiliki rumah, toko buku, seorang anak perempuan bernama Pina, dan seorang pegawai kepercayaan bernama Lehi.
Kehidupan itu berjalan sebagaimana biasanya sampai suatu malam suara pintu kamar membangunkannya. Penyusup itu tidak mengambil apa pun. Ia justru melarikan diri setelah melihat foto keluarga yang tergantung di dinding.
Detail sederhana ini menjadi pemantik misteri. Mengapa seseorang yang telah berhasil masuk ke sebuah rumah, bahkan membawa pisau, tiba-tiba pergi tanpa membawa barang berharga?
Pertanyaan tersebut kemudian bertemu dengan ketidakhadiran Lehi. Dua hari setelah peristiwa itu, Lehi tidak masuk kerja. Rego yang masih dihantui suara parau lelaki berpenutup wajah mulai menghubungkan beberapa kepingan, yaitu suara yang terasa akrab, ketidakhadiran Lehi, dan kegugupan penyusup ketika melihat foto Pina.
“Lehi mungkin adalah orang di balik penutup wajah itu,” tutur Emi.
Antara Ancaman dan Keterdesakan
Penutup wajah merupakan simbol kunci dalam cerpen ini. Pada mulanya ia berfungsi secara konkret: menyamarkan identitas lelaki yang berdiri di depan kamar Rego sambil menodongkan pisau. Namun, benda itu kemudian berkembang menjadi batas antara sosok yang tampak sebagai ancaman dan manusia yang menyimpan persoalan di baliknya.
















