
Menurut Toto Sonata, kini para wartawan itu sedang bermetafomosa sebagai penulis puisi untuk ikut merayakan peringatan hari kemerdekaan negerinya.
Dengan puisi mereka merefleksikan situasi yang terjadi. Bersyukur negeri tercinta telah merdeka.
Toto menekankan bahwa karya puisi bisa bercorak macam-macam. Karena tiap penyair bisa meghasilkan bentuk puisi berbeda-beda. Ada yang bercorak naratif, reportatif, agitatif, kontemplatif, romantis, liris, putis,dan bakan sufistis.
“Semua itu sah adanya sebagai puisi. Sebab, bentuk puisi itu tidak tunggal, dan tak mengenal doktrin ‘asas tunggal’ seperti pada suatu era ketika semua hal bisa dipolitisasi sesuai kehendak Duli Tuanku,” tandasnya.
Puisi punya kebebasan berekspresi. Puisi punya licentia poetica, kebebasan memilih kata-kata sejauh tidak ‘merusak ‘penggunaan bahasa. “Jika puisi itu beragam, patut diingat, bahwa keragaman itu rakhmat,” cetusnya. ap
















