
“Layanan kemanusiaan harus kita bangun kepada siapapun yang tinggal di Jatim karena itu merupakan perlindungan bagi setiap nyawa dan jiwa,” urainya.
Untuk membangun persaudaraan antarmahasiswa dari berbagai suku di satu tempat, Khofifah mengusulkan kepada pemerintah pusat agar mendirikan Asrama Mahasiswa Nusantara yang dikhususkan bagi mahasiswa semester 1 dari berbagai daerah.
Saat ini, asrama tersebut telah digunakan dan sebagian besar adalah mahasiswa asal Papua. “Dalam benak saya, persemaian nilai nusantara dan kebhinnekaan dapat terbangun dalam satu proses yang saling mengenal keseharian mereka. Maka interaksi di asrama merupakan hal yang efektif,” ucapnya.
Cara-cara konkret semacam ini yang kemudian membuat landasan kebhinnekaan menjadi semakin kuat, utuh, dan satu.
“Narasi kebhinnekaan dan keindonesiaan serta multikultural harus banyak mengawal dan memberikan penguatan sehingga bisa ber-Indonesia lahir batin,” tegasnya.
Sementara itu, Benny Lianto, Rektor Ubaya mengatakan, di Indonesia tidak terlalu banyak tokoh yang berkiprah dalam konteks nasional. Benny bahkan menilai bahwa anggapan yang mengatakan tokoh nasional adalah sosok yang berkiprah di Jakarta, tidaklah tepat.
















