
Syaiful, pengasuh Republik Dolanan yang bermarkas di Lakarsantri, ditugasi mengarahkan forum dengan pendekatan ‘simulasi game’. Metode ini terbukti efektif memecah potensi kubu-kubuan yang kerap muncul dalam pemilihan pengurus lembaga.
Peserta diminta duduk satu meja dengan orang yang tidak mereka kenal. Mereka menuliskan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam musyawarah.
Pada babak berikutnya, potongan kertas berwarna di bawah kursi mengacak komposisi kelompok. Skema dukung-mendukung yang mungkin telah disiapkan sebelumnya mendadak buyar karena ‘orangnya’ terlempar ke kelompok berbeda.
Dalam waktu 15 menit, setiap meja—yang rata-rata diisi 15 orang—menghasilkan sekitar 30 usulan. Jika terdapat 10 meja, berarti 300 ide terkumpul hanya dalam seperempat jam. Pola ini menunjukkan bahwa partisipasi yang terstruktur mampu melahirkan gagasan kolektif secara cepat dan efektif.
Gagasan dan Analogi
Di salah satu meja, Heri Lentho—sutradara Surabaya Juang—bersama kelompoknya membahas struktur dan relasi kelembagaan. Ia mengajukan analogi tiga pihak, yakni dokter (lembaga), pasien (komunitas), dan apotek (fasilitator/pemerintah).
















