
Pendidikan Demokrasi Kultural
Musyawarah yang berlangsung dari pukul 09.30 hingga 16.00 itu bukan sekadar ajang pemilihan figur. Ini menjadi laboratorium demokrasi kultural—tempat ide diuji, ego dikendalikan, dan ambisi dilebur dalam mekanisme kolektif.
Model ‘simulasi game’ menunjukkan bahwa demokrasi bisa dirancang kreatif tanpa kehilangan substansi. Seleksi esai menegaskan pentingnya kapasitas intelektual. Voting terbuka memperlihatkan akuntabilitas.
Musyawarah jilid pertama pun ditutup dengan satu kesadaran bersama, bahwa transformasi lembaga kebudayaan bukan tentang siapa yang duduk di kursi, melainkan bagaimana sistem dibangun agar komunitas seni tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
Rokimdakas mengatakan, publik menanti tindak lanjut dari Disbudporapar Kota Surabaya. “Jika proses ini konsisten dijaga, Surabaya bukan hanya dikenal sebagai Kota Pahlawan, tetapi juga kota yang mempraktikkan demokrasi kebudayaan secara matang, transparan, dan inspiratif,” tandasnya. */ap
















