Buku 2,9 Kg Ini Menyimpan 45 Tahun Perjalanan Seni Rupa Indonesia

0
1

Adi Wicaksono, penulis dan kurator seni rupa yang hadir dalam diskusi, bahkan membuat perbandingan yang cukup kuat. “Kalau di dunia sastra ada HB Jassin, bisa jadi dalam seni rupa kontemporer ada Bu Melani,” ujarnya.

Asmujo menyebut Melani sebagai ‘omniperson’, sosok yang seolah hadir di berbagai peristiwa seni rupa. Kedekatannya dengan seniman dan konsistensinya dalam mendokumentasikan perjalanan mereka membuat Melani juga kerap disebut sebagai “ibunda seni rupa kontemporer Indonesia”.

Awalnya Hanya Terapi
Yang menarik, aktivitas tersebut pada mulanya bukan dirancang sebagai proyek arsip besar. Melani mulai menjadi dokter pada 1977, ketika usianya 32 tahun. Kegiatan mendokumentasikan dunia seni rupa dilakukan, menurut pengakuannya, sebagai semacam terapi.

Namun kebiasaan personal tersebut perlahan berkembang. Ia bukan hanya memotret karya, tetapi juga membangun hubungan panjang dengan orang-orang di dalam dunia seni rupa. Relasi itu bahkan menghasilkan arsip lain berupa surat-menyurat dengan para seniman.

Isi surat beragam, dari persoalan seni, undangan kegiatan, kabar personal, hingga curahan hati. Sebagian di antaranya masih berupa tulisan tangan.

1 2 3 4 5 6 7

Comments are closed.