Juru Bicara Bukan Sekadar ‘Mulut’, Tetapi Makna Pesan dan Kunci Komunikasi Lembaga

0
3908

Krisis adalah waktu paling sensitif. Kata-kata bisa jadi pelipur, atau pemantik emosi. Maka, tugas juru bicara bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi membentuk persepsi yang adil dan membangun kepercayaan.

Komunikasi krisis sesungguhnya  bukan soal menyelamatkan muka, tapi menyelamatkan makna. Dalam era post-truth dan disinformasi, keberadaan spokesperson bukan sekadar juru bicara, tapi juru makna, juru rasa, dan juru arah.

Ia adalah wajah organisasi yang dilihat publik saat krisis. Ia adalah suara yang ditunggu ketika kabar simpang siur menyerang.

Mungkin sudah saatnya kita belajar dari pengalaman untuk menentukan juru bicara bukan berdasarkan koneksi atau kedekatan, namun mulai memilih berdasarkan kompetensi, kredibilitas, dan ketangguhan retoris.

Zaman telah berubah, satu kalimat bisa mengangkat reputasi, atau bisa juga merusak dalam hitungan detik. Krisis tidak hanya menguji sistem, tetapi juga menguliti wajah organisasi di mata publik.

Dan di tengah pusaran itu, seorang juru bicara bisa menjadi penyelamat—atau penghancur reputasi. *

Penulis : Nugroho Agung Prasetyo SSos MSi
(Konsultan Komunikasi Cetta Satkaara & Dosen Komunikasi Universitas Bakrie)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Comments are closed.