
Nugroho Agung Prasetyo
Juga etika komunikasi yang transparan tapi tetap menjaga integritas data dan privasi. Serta manajemen persepsi yang mampu menggiring narasi publik ke arah yang produktif dan tidak destruktif.
Menjadi juru bicara dalam krisis bukan pekerjaan dadakan. Diperlukan pelatihan khusus, simulasi krisis, hingga kemampuan berpikir strategis di bawah tekanan.
Lembaga seperti FEMA di AS dan CERC (CDC) bahkan mengembangkan pedoman Crisis & Emergency Risk Communication, yang menekankan pentingnya narasi yang empatik dan terkoordinasi.
Kita menyaksikan betapa pentingnya komunikasi krisis di Indonesia saat ini. Saat berbagai tantangan dalam negeri dan luar negeri begitu kuat. Banyak instansi menunjuk tokoh populer, bukan yang terlatih.
Padahal ketika krisis datang, popularitas tidak cukup, dan yang dibutuhkan adalah presisi dan empati. Juru bicara perlu diperlengkapi dengan sense of crisis, keterampilan retoris, ataupun strategi komunikasi berbasis data dan emosi.
















