
Nugroho Agung Prasetyo
Namun lebih penting dari semua itu, adalah kemampuan juru bicara untuk mengambil hati publik. Bukan dengan gimmick, tapi dengan komunikasi yang menunjukkan empati sejati.
Lihat bagaimana pasca terjadinya tragedi penembakan di Mesjid Al Noor dan Mesjid Linwood, Selandia Baru. Perdana Menteri Jacinda Ardern tidak hanya menyampaikan pernyataan formal, tapi mengenakan hijab, memeluk para korban, dan berbicara sebagai manusia, bukan politisi. Publik tidak hanya melihat pemimpin, mereka melihat sosok yang hadir.
Juru bicara adalah wajah dan suara institusi, tapi lebih dari itu, ia adalah penyambung rasa antara logika organisasi dan emosi publik. Ketika kepercayaan terguncang, spokesperson bukan hanya memberi data, tapi juga harapan, arah, dan empati.
Dalam literatur komunikasi krisis, Coombs (2007) menjelaskan bahwa komunikasi saat krisis harus cepat, akurat, dan empatik. Tidak ada ruang untuk kesalahan narasi.
Spokesperson bukan hanya pembaca naskah, tetapi juga pembangun makna (meaning maker) di tengah ketidakpastian. Mereka harus memiliki kompetensi yang kuat. Antara lain kecerdasan emosional dalam memahami sensitivitas public, kecakapan retoris yang mampu menyampaikan pesan yang tegas namun menenangkan.
















